If a man doesn’t fall on his knees in prayer, he doesn’t deserve to fall to one knee with a ring ;)
I found that sentence in my friend’s wall and absolutely agree with that :)

Masih terekam dengan jelas di ingatan pertama kalinya saya berjumpa bocah berusia belasan itu. Dengan rambut pendek dan tampang polos ala anak yang baru saja lulus SMA. Kala itu dia tak banyak bersuara. Bahkan ketika saya dan Mas Chandra menjemputnya di Kandang Rusa Lembah UGM. Dia hanya cengar-cengir saat saya bercerita bahwa kakaknya sudah menangis di kos-kosan mengira adik semata wayangnya itu hilang entah dimana.
Lantas pada suatu pagi, di bus jalur 7 yang melaju membawa kami menuju Jogja Selatan dia mulai banyak bertanya tentang Mas Chandra. Rupanya bocah ini anak PA, sehingga saat tau bahwa Mas Chandra sama-sama anak PA dia menjadi begitu antusias buat tanya-tanya. Dari situ kami berdua merasa klik. Gegara saya merasa nyaman dengannya, akhirnya saya pun merelakan Mas Pacar mengajak dia ngecamp di lereng Merapi bahkan daki Merbabu. Sedangkan saya melingkar di bawah selimut yang nyaman di kos-kosan.
Saya juga masih ingat saat dia menangis tersedu-sedu gara-gara dimarahi ibu pacarnya kala itu. Entah soalan apa. Yang jelas kami sekos-kosan berusaha menenangkannya. Tak lama setelah itu mereka pun putus. Kemudian silih berganti datang cowok-cowok mendekatinya, dan entah kenapa katanya tidak ada yang klik. Dia pun memilih untuk terus jomblo dan fokus pada kuliah, PMK, Paduan suara, sambil sesekali galau.
Punya keluarga yang berkecukupan, teman yang asyik, penggemar yang banyak, TA lancar jaya, lulus kuliah tepat waktu, IPK cum laude, coba apalagi yang kurang? Bahkan saking lurusnya “jalan hidup” yang dia lewati, dia sering berujar “Kok kayaknya hidupku datar-datar aja ya?”
Tapi sepertinya dia kemakan omongannya. Hidup yang awalnya seperti jalan lurus berubah menjadi berkeloak-kelok dan penuh tanjakan terjal serta turunan yang curam. Banyak hal menanti. Tuntutan harus kerja pasca lulus dan masalah hati yang tak kunjung usai.
Banyak sudah air mata yang tertumpah menemani perbincangan kami. Di tambah perdebatan-perdebatan kecil tentang cara berfikir yang berbeda. Saya, yang terlahir lebih dulu darinya merasa tau lebih banyak soal hidup. Hal-hal yang sedang dia hadapi pernah pula saya tanggung. Soal kerja yang tak sesuai hati dan mimpi hingga soal cinta yang berbeda agama. Dan dia, cukup ngeyel dengan mempertahankan pendapatnya.
Akhirnya smapai pada satu titik dimana dia “memaksa” saya untuk melepasnya ke Belitung. Dengan sepenuh hati saya merelakan. Saya tahu, motifnya hanyalah untuk melarikan diri. Padahal seingat saya, melarikan diri bukanlah cara terbaik untuk menyembuhkan hati. Di Belitung, badai kembali datang bertubi-tubi. Jauh lebih ganas dan lebih kompleks dari sebelumnya.
Saat dia hampir menyerah saya selalu berujar “Ini pilihanmu dan jangan pernah menyesalinya” dan dia pun memutuskan untuk bertahan. Setengah tahun terlewati sebelum akhirnya dia kembali pulang ke Jawa, mencoba memulai lembaran hidup yang baru.
Beberapa waktu yang lalu tanpa sengaja saya melihat status facebooknya. Kalau tak salah dia berujar bahwa sekarang sudah jadi pegawai kantoran, sudah tidak bisa seperti dulu lagi, benar-benar sudah gede. Saya hanya tersenyum membacanya. Lantas dia sempat menelpon sambil menangis, bercerita tentang masalah yang dia hadapi.
Ah, nona. Masalahmu itu juga pernah aku hadapi, bahkan jauh lebih sulit dibanding itu. Percayalah, semua orang punya masalahnya masing-masing. Jadilah kuat, jadilah tangguh!
Meraih mimpi tidak ada rumus patennya. Tidak bisa diukur dengan rumus kecepatan dimana V=S/t. Tidak ada istilah semakin cepat kamu lari semakin cepat kamu meraih mimpi. God works in mysterious way. Some people are destined to get what they want easily. If you’re not one of them, god menat you to be stronger – lupa baca ini dimana.
Semua perlu proses. Kamu harus taat dan bersabar menjalani itu semua. Percayalah sudah Tuhan siapkan indah pada waktuNYA. Ingat, pada waktuNYA bukan waktu kita. Sekarang yang bisa kamu lakukan adalah jalanilah dan lakukanlah yang terbaik yang kamu bisa. Supaya kamu tidak menyesal pada nantinya. Lantas jangan jadikan orang lain sebagai parameter kebahagiaanmu dan pencapaianmu. Gunakanlah parametermu sendiri. Kebahagiaanmu ada di hatimu sendiri.
Dan soalan 30 hari mencari cinta itu hahahaha, enetah kenapa aku selalu tertawa tiap ingat ini. Nona, percayalah Tuhan sudah sediakan kok. Gak usah dibikin galau. Nikmati setiap prosesnya, nikmati setiap jatuh bangunnya. Seperti yang pernah aku bilang dulu, kalau sampai saat ini kamu masih single, berarti memang belum ada pria yang cukup tangguh & layak untuk jadi pendampingmu. Ini bukan soal target kok ;)
Hidupmu terlalu berharga Nona. Sangat berharga karena kau istimewa di mataNYA. Kami semua bangga padamu, meski tidak menunjukkannya. Dan kami semua sangat menyayangimu dengan cara masing-masing. Ayo hadapi dunia sesungguhnya yang sekarang menantimu. Kamu pasti bisa menaklukkannya!
Ps: anggap saja tulisan ini sebagai ganti ucapan selamat ulang tahun untukmu ya! Love you Totos!
Agustinus Wibowo - @avgustin88
Berhubung tak ada banyak waktu untuk melipir ke Merbabu, maka Puncak Gede di Nglanggeran jadi pilihan menghabiskan malam liburan. Setidaknya bisa mengurangi kerinduan akan kabut & tempat tinggi. dan entah kenapa, kita berdua tidak pernah berjodoh dengan sunrise :(
Elisabeth Murni
Beberapa minggu terakhir ini saya sedang berada di titik gamang. Mulai mempertanyakan pilihan hidup yang saya jalani. Antara akan terus bertahan seperti ini, atau menyerah lantas memutar haluan.
Namun entah kenapa. Selalu, disaat hampir menyerah dengan jalan sunyi yang saya dipilih, ada saja hal-hal baik yang datang bertubi-tubi dan membuat percaya bahwa pilihan yang saya jalani ini tidaklah salah.
Semoga akan terus seperti ini. Saya tetap menghidupi mimpi-mimpi sendiri dan terus bersetia pada apa yang telah menjadi pilihan.
Jadi ingat pesan singkat seorang kawan. Move on! Be brave!
Ya, saya harus terus bergerak, harus terus menjadi berani. Melewati jalan sunyi ini meski nantinya hanya sendirian. Berani menjadi diri sendiri meski itu menentang arus. The winner stands alone, kalau kata Paulo Coelho.
Karena hidup bukan hanya tentang menjawab pertanyaan orang-orang.
Ah, Tuhan memang Maha Cihuy. Skenarionya benar-benar tidak bisa ditebak :)
Sesaat, sebelum mentari tergelincir ke barat. Tempat ini selalu mampu menenangkan hati yang bimbang, serta menegakkan pikiran yang limbung.
Pada suatu senja di Pantai Tanjung Pendam, Belitung
Rindu berada dalam dekapan kabut basah, membaui aroma pucuk cantigi, menyaksikan gumpalan awan di bawah kaki, dan menjejak tempat tinggi ini bersamamu lagi…