Kamu, kopi, dan percakapan tentang mimpi. Bukankah itu trilogi yang sempurna untuk membuka hari? Terimakasih untuk pagi sempurna yang telah kau cipta. Dan keping ini akan menjadi bagian penting dalam rangkaian puzzle perjalanan panjang ini :)
22052012
Dear kamu,
Ya, hari ini tepat hari ke-14 aku menjejak kaki serta menghirup udara di tanah yang cantiknya kebangetan ini. Hari ke-14, banyak hal yang sudah terjadi. Rindu akan kamu dan Jogja terakumulasi, namun galau sudah banyak tereduksi. Bertemu dan bercakap dengan banyak orang baru setiap harinya benar-benar memberi energi lebih. Asupan gizi untuk badan dan otak berjalan seimbang. Di sini saya bercakap dengan siapa saja, mulai dari nelayan tua, anak-anak pencari ikan di Tanjung Binga, staff Lor Inn Villa yang curhat tentang hidup dan mimpinya, Datuk Mustafa yang ternyata kepala adat Desa Kembiri, Camat Membalong yang ternyata orang Solo, pemilik wisma yang ternyata orang penting di kota ini, pemilik kedai kopi yang ramah, bu Janah yang selalu tertawa saat saya datang hendak sarapan, mahasiswa UI dan profesor Jepang yang sedang riset tentang Suku Sawang, sekelompok anak muda hebat yang concern dengan penyelamatan lingkungan, bajak laut yang sudah bertaubat dan menjadi pecinta tarsius, mas-mas cakep di tengah hutan, dan banyak lagi lainnya.
Sedikit demi sedikit aku mulai memahami ritme kehidupan pulau ini. Pulau yang sepi, tenang, nyaman, dan sangat aman. Jujur aku sudah mulai jatuh cinta dengan pulau ini. Coba ada gua yang bisa dijelajahi, pasti cintaku bakal bertambah besar hahaha. Aroma lumpur disini beda dengan aroma lumpur di gua. Di sini lumpur menyisakan kepedihan, menyisakan sepotong duka tentang “kisah eksploitasi timah”, beda dengan lumpur di gua Gunungkidul yang selalu mampu membuatku bahagia. Bahkan merindunya jika tidak menyambangi dan membaui untuk beberapa waktu lamanya. Lumpur di sini entah mengapa membuatku merasa takut.
Sebenarnya ada banyak, bahkan teramat banyak hal yang ingin ku kisahkan tentang pulau ini dan hari-hari yang kujalani selama ini kepadamu. Tapi entah kenapa aku bingung hendak memulai. Yang jelas disini aku baik-baik saja. Perjalanan ini bukan semata pemenuhan tugas dan bersenang-senang semata, tapi jauh dibalik itu. Ini adalah perjalanan religius buatku, di mana DIA mengajarkan banyak hal. It’s not about the destination, but the journey.
Biarlah kisah itu nanti kuceritakan padamu secara langsung. Karena aku ingin melihat tawamu saat ku bercerita tentang kejadian lucu di bandara, aku ingin melihat cemburu di matamu saat kukisahkan betapa aku ngefans dengan pria syalala, dan aku ingin menggenggam tanganmu erat sambil berujar “someday we’ll go there together…”
Tanjungpandan, 14 Mei 2012
Twilight after the storm in Tanjungpendam Beach, Belitung, Indonesia
picture by Elisabeth Murni :)
Hahahaha, hari banyak melakukan hal baru dan yang pasti salah satu mimpi saya terwujud. Ebetewe, ini kali pertamanya saya menjejakkan kaki di luar Pulau Jawa lho hahahaha.
- “Loh bukannya kalian beda ya, Sash?”
+ “Makanya itu. Sejak awal aku udah yakin kalo ini gak akan sampai kemana-mana. Sejak awal memutuskan untuk jalan bareng kami berdua percaya bahwa akhirnya juga akan berhenti di tengah jalan kok. Makanya kami benar-benar saling menjaga satu sama lain”
- “Maksudnya menjaga?”
+ “Ya nggak pake hati terlalu dalam, biar kalo pisah nggak sakit. Ya meski pada kenyataannya dulu saat pisah tetep nangis-nangis.”
- “Aneh”
+ “Yes, we did”
- “Lantas ngapain kalian pacaran kalo tau hanya akan putus?”
+ “Jiwa muda, bro. Suka sesuatu yang menantang. Kek kamu juga kan? Beda negara, beda agama, sama-sama kuat, sudah pake hati terlalu dalam. Lantas mau dibawa kemana?”
- “Entah. Aku juga nggak tau”
#KemudianHening
Percakapan semalam dengan seorang kawan hingga menjelang pagi, dan untuk pertama kalinya saya melihat sorot mata yang beda dari dirinya…
SOEGIJA
Fiuh, gak sabar buat lihat film ini besok Juni :)
+ Aku tuh setia lho, Sash!
- Setia dari Hongkong!
+ Kok gak percaya?
- Jelas nggak percaya lah, wong kamu gampang banget pindah ke lain hati gitu kok. Dulu katanya cinta mati sama gunung, terus pindah caving, terus diving, terus sekarang mau sepedaan di gunung. Gitu kok setia.
+ Loh itu berarti aku suka belajar hal-hal baru, Sash!
- Bukan berarti yang lama ditinggalkan toh?
+ Tapi kan endingnya tetep mainan di gunung, Sash. Kembali ke cinta pertama, hahaha
- Itu judulnya bukan setia. Tapi kamu suka yang lagi ngehits :p
Perbincangan absurd dengan seorang kawan yang gosipnya baru saja patah hati :)
Pengen berada di tempat ini lagi, berkejaran dengan embun pagi, kabut, dan mentari yang perlahan menampakkan diri. Tak lupa sederet kejadian konyol & kisah absurd yang mewarnai. Kemudian semua larut dalam gelak yang tak kunjung reda. Bahagia…
Kompleks Candi Arjuna, Dieng, Jawa Tengah - 2011
pic by: Eros YR (YogYES.COM)
Tidak kemana-mana. Masih tetap di sini, duduk manis di depan laptop saban hari. Terkadang meloncat kesana-kemari. Masih penyesuaian dengan perubahan yang baru saja terjadi. Seharusnya memang sudah mulai menata hati dan otak dan masa depan. Namun entah kenapa masih terjebak dalam kebingungan. Saya belum tau hendak melangkah kemana selepas ini. Bukan tentang pekerjaan, tapi lebih tentang ke panggilan hati dan jiwa. Sepertinya saya memang perlu rehat sejenak. Menghirup sedikit udara kebebasan setelah berbulan-bulan “terbelenggu” (tsaaah bahasanya).
Mood menulis saya sedang anjlok. Banyak hal yang berkelindan di kepala, namun sangat sulit untuk mentranslasikan lewat rangkaian kata. Sepertinya ada yang menggumpal di otak dan perlu dicairkan. 2 minggu lagi saya berencana melakukan perjalanan singkat bersama Faa. Semoga saya bisa menemukan sesuatu dari perjalanan kami nanti. Mencari dan menemukan sesuatu yang hilang. Ya semoga…
Ebetewe saya tak sabar menunggu datangnya bulan Mei yang berlanjut ke Juni. Akan ada petualangan yang menyenangkan pada bulan-bulan tersebut :)